Thursday, 9 June 2016

Tuhan, Genapkanlah Kebahagiaanku! - Resensi nover hairless - review

Resensi Novel Hairless
Tuhan, Genapkanlah Kebahagiaanku!

Judul buku                  : Hairless
Pengarang                   : Ranti Astria Hannah
Penerbit                       : GagasMedia
Kota tempat terbit       : Jakarta Selatan
Tahun terbit                 : 2011
Tebal                           : 298 halaman
Harga                          : Rp 39.000,00

Bagaimana rasanya ketika di usia belum genap 25 tahun sudah menjadi dokter, istri dan sedang mengandung anak pertama, lalu divonis memiliki kanker? Sang penulis,  Ranti Astria Hannah, ada survivor kanker payudara. Buku ini merupakan memoar atau kisah nyata dari pengalaman penulis menghadapi kanker payudara.
Berawal di usia kehamilannya yang baru 7 bulan, ia dan suaminya, Pandu,  menemukan sebuah benjolan di bagian payudara kanannya. Ranti sempat tidak percaya bahwa itu adalah pertanda kanker. Ia berusaha untuk tetap berpikiran positif dan menganggap itu hanya muncul karena pengaruh hormon estrogen.
Kekhawatiran Ranti akhirnya terjadi juga. Setelah pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan Ranti, sampai ketika ia pergi ke Singapura, barulah diketahui bahwa benjolan itu positif kanker. Semenjak itu perjuangan Ranti dimulai. Masa-masa menanti kelahiran anak pertamanya ikut terbebani perasaan campur aduk akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada pasien kanker. Segala impian untuk memberikan ASI eksklusif untuk anaknya dan segala bayangan kebahagiaan akan hadirnya buah hati mulai tercemari ketakutan-ketakutan Ranti akan kanker.
Setelah melahirkan, Ranti melakukan pengobatan di National University Hospital, Singapura. Ditemani Mama, Papa atau Suaminya tercinta, Pandu, Ranti bolak-balik Indonesia-Singapura-Indonesia berjuang melawan kanker ganas yang dimilikinya. Ia harus menerima vonis mastectomy, menjalani radiotherapy, dan menempuh kemoterapi yang mengakibatkan rontoknya rambut, muntah-muntah, menopause sementara. Belum lagi kemungkinan bahwa kankernya bisa diturunkan melalui gen, berarti ada kemungkinan orang-orang terdekatnya juga bisa memiliki kanker yang sama.
"Memang pasti berat menghadapi penyakit kanker ini, tapi bila mereka bisa menghadapi cobaan, saya yakin mampu juga melewatinya." (hlm. 134). Dengan ketegaran dan dukungan orang-orang terdekatnya, Ranti bertekad akan memenangkan perjuangan ini. Kelak suatu hari ia akan dikenal sebagai seorang survivor, bukan korban dari Kanker. Di buku ini juga diceritakan  bagaimana Ranti bersikap sebagai anak  muda yang masih butuh teman buat ngasih perhatian, becandaan, ketawa atau nangis. Juga sebagai teman yang saling bersikap dewasa, merencanakan masa depan, dan menghadapi kenyataan.
Hairless merupakan sebuah buku nonfiksi yang ditulis oleh Ranti Hannah sendiri. Bahasanya tidak kaku, ceritanya inspiratif dan sangat menyentuh. Namun, ada beberapa istilah kedokteran yang sulit dimengerti. Banyaknya kata-kata bahasa Inggris kadang sedikit mengganggu. Kekuatan dari buku ini adalah pesan yang ingin ditinggalkan oleh penulis. Bukan cerita haru yang membuat pembacanya menangis dan merasa iba kepada Ranti, melainkan agar kita bisa melihat bahwa seorang survivor kanker mampu untuk menghadapi kehidupan ini. Selain itu dibuku ini juga ada informasi penting yang bisa ketahui mengenai penyakit tersebut dan membuka wawasan bagi kita para wanita.

Buku ini sangat layak dibaca bagi para wanita, baik remaja maupun yang dewasa karena di dalam buku ini informasi tentang kanker payudara yang sangat bermanfaat bagi semua wanita. Dan untuk para lelaki juga dapat membaca buku ini, dengan membaca buku ini, saya harap akan banyak Pandu-Pandu lainnya yang bisa tetap kuat dan tegar serta mencintai istrinya apa adanya.